Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, kuliah semester 6 yang saya jalani tinggal seminggu lagi. Pada saat yang bersamaan, justru di saat masa perkuliahan semester 6 ini mendekati akhirnya, frekuensi berbagai assignment justru malah meningkat. Tentunya di dalam atmosfer yang amat sangat hectic ini diperlukan kemampuan time management yang rapi serta kedisiplinan yang tinggi agar tidak ada satupun mata kuliah yang terbengkalai, salah satunya adalah kuliah teori keputusan ini. Di sela-sela menjelang akhir semester 6 yang kita jalani, tentunya sudah banyak yang kita dapatkan dari mata kuliah ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya mengajak pembaca sekalian untuk mereview apa saja yang telah diperoleh dalam kuliah teori keputusan ini.
Pada awalnya, satu hal yang membuat saya tertarik untuk mengambil mata kuliah teori keputusan ini adalah karena dengan mengikuti kuliah ini saya dapat mengetahui dasar-dasar dalam pengambilan keputusan, seperti apa-apa saja yang harus dipertimbangkan dalam membuat keputusan, dan tentunya bagaimana agar kita dapat mengambil keputusan yang tepat (dalam hal ini dapat meningkatkan keuntungan dan kesembatan serta mengurangi cost dan resiko yang dapat ditimbulkan).
Untuk mendapatkan semua pengetahuan tersebut, tentunya kita juga harus mengerahkan effort yang setimpal. Tidak heran, bila justru ilmu-ilmu mengenai teori keputusan seperti AHP dan ANP justru saya peroleh melalui tugas review jurnal dan tugas pembuatan model melalui software yang sudah kita kerjakan sepanjang semester 6 ini. Dengan kata lain, tugas-tugas inilah yang memberikan kesempatan bagi kita untuk mendapatkan pengetahuan-pengetahuan tersebut.
Sebagai contoh, tentunya kita mengingat tugas pertama yang diberikan, yaitu mencari jurnal yang berhubungan dengan pengambilan keputusan. Melalui tugas ini, kita menjadi tahu bahwa ada banyak tools yang dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan, seperti fuzzy logic, robust optimization, di samping AHP dan ANP yang sudah kita kenal. Hal menarik di sini adalah pada tugas berikutnya, kita diminta untuk menjelaskan mengenai metode apa yang digunakan dalam jurnal yang dijadikan bahan resume pada tugas sebelumnya. Melalui tugas ini, saya mendapatkan gambaran mengenai robust optimization model yang awalnya terdengar sangat asing. Pada intinya robust optimization model ini tidak berbeda jauh dengan metode optimasi yang kita kenal dalam Operation Research, yaitu untuk mengoptimalkan fungsi tujuan dengan tetap mengikuti constraint yang ada.
Sementara itu, pada tugas berikutnya, kita diajak untuk memiliki perspektif yang lebih luas mengenai decision support system (DSS). Melalui tugas ini kita dapat mengetahui bahwa metode DSS tidak terbatas pada pendekatan kuantitatif saja, tetapi juga pada pendekatan kualitatif. Selain itu, DSS juga tidak sebatas digunakan pada hal-hal seputar engineering semata, tetapi juga dapat digunakan dalam hal lain seperti sosial, kesehatan, dan lain-lain. Tidak berbeda jauh dengan hal itu, pada tugas yang belum lama ini dikerjakan, kita juga menjadi tahu bahwa system modelling juga dapat membantu kita dalam menentukan keputusan krusial yang perlu diambil. Pada umumnya permodelan semacam ini menggunakan software-software permodelan seperti ProModel, ARENA, dan Powersim.
Dari semua pendekatan DSS yang ada, kita lebih difokuskan pada AHP dan ANP, yang merupakan metode pengambilan keputusan yang paling sering digunakan. Sesuai dengan namanya, AHP atau Analytical Hierarchy Process lebih menekankan pada konsep hierarki dari kriteria-kriteria serta subkriteria di dalamnya terhadap sebuah keputusan. Masing-masing kriteria dan subkriteria ini kemudian diberikan pembobotan sesuai dengan pengaruhya terhadap fungsi tujuan kita. Serupa dengan AHP, ANP juga memiliki hierarki kriteria di dalamnya, hanya saja dalam ANP, kriteria-kriteria dapat saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya. Sementara itu, dalam ANP, kriteria-kriteria utama lebih dikenal dengan istilah cluster. Umumnya cluster yang sering digunakan adalah merit clusters, yaitu BOCR (benefit opportunity cost ratio). Tentunya AHP dan ANP tidak akan dapat kita kuasai jika kita sekedar tahu teorinya semata. Oleh karena itu, setiap mahasiswa harus membuat model AHP dan ANP melalui software Expert Choice dan Super Decision. Kedua model ini jugalah yang kemudian menjadi bahan ujian dari mata kuliah Teori Keputusan ini.
Untuk ke depannya, tentunya kita semua berharap bahwa ilmu pengambilan keputusan ini dapat kita terapkan di kemudian hari, entah untuk kepentingan pekerjaan atau untuk mengambial keputusan penting lainnya. Dengan kata lain, berakhirnya mata kuliah Teori Keputusan bukan berarti akhir dari pengambilan keputusan, melainkan menjadi landasan yang kuat agar dapat dihasilkan keputusan yang optimal.